Tatacaranya adalah sebagai berikut : Baca surah Al-Fiil sebanyak 1000 kali selama 10 hari berturut-turut dengan niat untuk menghancurkan musuh. Setelah genap 10 hari, duduklah di tepi sungai yang airnya mengalir, kemudian berdoa dengan doa berikut sebanyak 10 kali : اَللَّهُمَّ أَنْتَ الحَاضِرُ
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ ٱلْءَاخِرَةِ لِيَسُۥٓـُٔوا۟ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا۟ ٱلْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟ تَتْبِيرًا Arab-Latin In aḥsantum aḥsantum li`anfusikum, wa in asa`tum fa lahā, fa iżā jā`a wa'dul-ākhirati liyasū`ụ wujụhakum wa liyadkhulul-masjida kamā dakhalụhu awwala marratiw wa liyutabbirụ mā 'alau tatbīrāArtinya Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi kejahatan yang kedua, Kami datangkan orang-orang lain untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Al-Isra 6 ✵ Al-Isra 8 »Mau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarangKandungan Berharga Berkaitan Dengan Surat Al-Isra Ayat 7 Paragraf di atas merupakan Surat Al-Isra Ayat 7 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada kumpulan kandungan berharga dari ayat ini. Tersedia kumpulan penjabaran dari beragam mufassirun terkait isi surat Al-Isra ayat 7, sebagiannya seperti terlampir📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi ArabiaJika kalian baik dalam perbuatan-perbuatan dan uacapan-ucapan kalian, Sesungguhnya kalian berarti telah berbuat baik terhadap diri kalian sendiri. Sebab pahalanya kembali kepada kalian. Bila kalain bertindak buruk, maka hukumannyajuga berbalik mengenai kalian sendiri. Jika nanti telah tiba ketetapan terjadinya kerusakan kedua yang kalian perbuat, maka Kami akan menjadikan musuh kalian berkuasa atas kalain kembali, untuk menghinakan dan mengalahkan kalian, sehingga tampaklah bekas-bekas penghinaan dan penistaan pada wajah-wajah kalian dan lalu merangsek masuk menghadapi kalain ke dalam baitul maqdis untuk menghancurkannya sebagaimana mereka dahulu pernah menghancurkannya, dan kemudian meluluhlantahkan semua yang mereka miliki sehabis-habisnya secara total.📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid Imam Masjidil Haram7. Wahai Bani Israil! Seandainya kalian memperbaiki amalan kalian, dan mengerjakannya sesuai tata cara yang diperintahkan, niscaya ganjaran amalan tersebut pasti kembali pada diri kalian, sebab Allah tidak membutuhkan amalan-amalan tersebut. Sebaliknya, andai kalian berbuat keburukan maka balasannya juga akan kembali kepada kalian, sebab kebaikan amalan kalian sama sekali tidaklah memberikan manfaat kepada Allah, dan keburukan kalian tidak pula mendatangkan kerugian bagi-Nya. Apabila masa kerusakan yang kedua telah tiba, Kami akan memberikan kekuasaan pada musuh-musuh kalian agar merendahkan, menginjak-injak harga diri dan menyuramkan wajah kalian dengan menimpakan atas kalian ragam penghinaan dan siksa. Mereka juga pasti akan memasuki Baitul Maqdis lalu menghancurkannya sebagaimana yang mereka lakukan pada penguasaan mereka yang pertama, lalu menghancurkan semua negeri yang mereka kuasai secara menyeluruh.📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah7. Jika kalian baik dalam perkataan dan perbuatan kalian, maka pahalanya akan kembali bagi diri kalian di dunia dan di akhirat; namun jika kalian melakukan keburukan dengan berbuat kekafiran dan kemaksiatan, maka siksaannya juga akan kembali pada diri kalian. Dan jika kerusakan kedua telah kalian perbuat, maka Kami akan menjadikan kalian kembali dikuasai para musuh agar mereka menghinakan dan menindas kalian, dan agar mereka dapat memasuki Baitul Maqdis untuk menghancurkannya kembali sebagaimana yang terjadi ketika kalian melakukan kerusakan yang pertama; musuh-musuh itu akan menghancurkan dan membinasakan segala yang dapat mereka kuasai, seperti yang terjadi ketika datang serangan Bukhtanasshar, raja negeri Babil yang terletak sekitar 100 km selatan dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah7. إِنْ أَحْسَنتُمْ Jika kamu berbuat baik Yakni jika perkataan dan perbuatan kalian sesuai dengan yang diperintahkan kepada kalian. أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri Sebab balasan dari hal tersebut akan kembali kepada kalian. وَإِنْ أَسَأْتُمْ dan jika kamu berbuat jahat Dalam perkataan dan perbuatan kalian. فَلَهَا ۚ maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri Yakni berarti kalian telah bebuat jahat pada diri kalian sendiri. فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ dan apabila datang saat hukuman bagi kejahatan yang kedua Yakni jika telah datang waktu dari hukuman kedua yang dijanjikan kepada mereka. لِيَسُۥٓـُٔوا۟ وُجُوهَكُمْ untuk menyuramkan muka-muka kamu Yakni Kami akan menguatkan musuh kalian agar mereka dapat berbuat sesuatu yang menghinakan kalian sehingga pada wajah kalian akan nampak tanda kekalahan, kehinaan, dan aib setelah kalian dulunya menyombongkan diri dan angkuh. وَلِيَدْخُلُوا۟ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا۟ dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan Yakni untuk menghancurkan dan membinasakan. مَا عَلَوْا۟ apa saja yang mereka kuasai Yakni apa yang mereka kuasai dari negeri kalian. Atau semasa mereka berkuasa. تَتْبِيرًاsehabis-habisnya Yakni sehancur-hancurnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa kemungkinan terjadinya kejahatan mereka kali kedua adalah apa yang terjadi pada saat ini. Dan kebinasaan datang dari senjata-senjata perang yang datang dari arah atas seperti pesawat-pesawat jet, roket-roket dan lain sebagainya. Waallahu a’lam.📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah7. Jika kalian memperbaiki perbuatan dan perkataan kalian dengan menaati Tuhan kalian maka kalian telah berbuat baik pada diri kalian, karena imbalan atas hal itu adalah bagi kalian sendiri. Dan jika kalian berbuat kerusakan dan kemaksiatan maka atas kalian itu musibah yang buruk. Dan apabila telah datang saat lain hukuman lain atas kerusakan kedua di bumi, Kami akan mengutus mereka kaum dari Babilonia agar mereka memberi dampak buruk, hina dan menyedihkan bagi kalian, yaitu agar mereka memberi kalian kehinaan, penderitaan dan keburukan, lalu mereka masuk ke dalam Baitul Maqdis dan menghancurkannya, sebagaimana mereka masuk ke dalamnya pertama kali, kemudian mereka merobohkan dan memberi kehancuran yang dahsyat terhadap sesuatu yang mendominasi mereka, yaitu negeri kalian.📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah{Jika kalian berbuat baik, maka kalian telah berbuat baik untuk diri kalian sendiri. Jika kalian berbuat jahat, maka itu untuk diri kalian} menimpa kalian {Apabila datang waktu yang kedua} waktu kerusakan dan kesombongan yang kedua {untuk menyuramkan} untuk menghinakan dan merendahkan {wajah kalian untuk memasuki masjid} Baitul maqdis {sebagaimana memasukinya ketika pertama kali, dan untuk membinasakan} menghancurkan {apa yang mereka kuasai} apa yang mereka kuasai yaitu negeri-negeri kalian {dengan kehancuran yang sempurna} dengan kehancuran yang sempurnaMau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H7. “Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,” karena manfaat dari perbuatan baik kalian kembali kepada kalian sendiri bukan kepada orang lain, bahkan saat kalian masih berada di dunia, seperti yang telah kalian saksikan, berupa kemenangan kalian terhadap musuh-musuh kalian “dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,” kepada diri kalian sendirilah bahaya itu berbalik arah, sebagaimana yang telah Allah perlihatkan kepada kalian berupa penguasaan musuh atas kalian “dan apabila datang saat hukuman bagi kejahatan yang kedua,” yaitu kejadian berikutnya yang kalian berbuat kembali kerusakan di muka bumi pada waktu tersebut, maka Allah akan memberikan kekuasaan musuh-musuh atas kalian juga. “Kami datangkan orang-orang lain untuk menyuramkan muka-muka kamu,” melalui kemenangan mereka atas kalian dan keberhasilan menawan kalian. “Supaya mereka masuk ke dalam Masjidil Haram sebagaimana mereka dahulu pernah masuk untuk yang pertama kalinya,” masjid yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah masjid Baitul Maqdis “dan untuk membinasakan,” meruntuhkan dan menghancurkan “apa saja yang mereka kuasai,” atas kekuasaan yang mereka pegangi “sehabis-habisnya,” maka mereka akan menghancurkan rumah-rumah, masjid-masjid serta lading-ladang kalian.📚 Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid NabawiMakna kata إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ in ahsantum jika kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan ikhlas dan menjalankannya sesuai dengan yang telah disyariatkan. أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ ahsantum li`anfusikum pahala dan balasan yang baik kelak akan kembali kepada kalian sendiri tidak kepada yang lain. وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ wa in asa`tum jika kalian buruk dalam ketaatan, maka hukuman akan keburukan yang kalian lakukan akan kembali kepada diri kalian. لِيَسُ‍ُٔواْ وُجُوهَكُمۡ liyasuu`uu wujuuhakum agar mereka menjelekkan wajah mereka dengan bencana dan kelamnya kesedihan, dan mereka dalam keadaan hina. وَلِيَدۡخُلُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ wa liyadkhulul masjid yaitu Baitul Maqdis. وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوۡاْ تَتۡبِيرًا wa liyutabbiruu maa alau tatbiiraa agar mereka menghancurkan sehancur-hancurnya apa yang telah mereka kuasai berupa negeri Bani Israil. Makna ayat Konteks ayat masih berkisah tentang Bani Israil. Setelah Allah ta’ala mengabarkan apa yang telah diputuskan dalam kitab mereka, bahwa mereka akan berbuat kerusakan di bumi sebanyak dua kali dan berbuat kesombongan yang besar. Tatkala datang waktu pertama, Allah mengutus kepada mereka orang-orang yang kuat dan bengis, merekalah Jalut dan tentaranya, lalu mereka membunuh dan merampas Bani Israil. Kemudian Allah ta’ala memberikan kesempatan kepada mereka untuk membalas, lantas mereka menang dan Daud berhasil membunuh Jalut, muncullah sebuah negara yang besar yang memiliki pasukan perang terbanyak dan daerah kekuasaan terluas, karena mereka kembali kepada Allah dan mengamalkan kitab-Nya dan berpegang teguh kepada syariat-Nya, di sinilah Allah ta’ala berfirman “Jika kamu berbuat baik, maka itu untuk dirimu sendiri...” jika kalian berbuat baik dengan mengikuti kebenaran dan berpegang teguh taat kepada Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan, serta berpegang teguh dengan ajaran Allah ta’ala untuk memperbaiki manusia. Namun, jika kalian berbuat buruk; meninggalkan syari’at, tenggelam dalam kelezatan dan syahwat, maka hasilnya akan kembali kepada diri kalian sendiri sesuai dengan ketentuan Allah ta’ala “Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” [Qs. An-Nisa` 123] Firman-Nya ta’ala “Apabila datang janji yang terakhir...” yaitu waktu yang ditentukan; yang kedua setelah pertama, Allah kembali mengutus kepada mereka hamba-hamba-Nya; Nebukadnezar Bikhatunshar dan bala tentaranya, Allah mengutus mereka untuk menjadikan wajah Bani Israil hitam karena apa yang mereka rasakan berupa kesedihan dan kehinaan “agar mereka memasuki masjid...” yaitu Baitul Maqdis, sebagaimana mereka memasukinya pertama kali “sehingga mereka menghancurkan...” memusnahkan “apa yang mereka kuasai...” yang mereka dapatkan dari rumah-rumah Bani Israil “sehancur-hancurnya.” Menghancurkannya secara total. Hal ini terjadi tatkala mereka membunuh Zakaria, Yahya alaihimas salam, dan banyak ulama, serta setelah muncul kefasikan di kalangan mereka, para wanita yang berhias, berbuat keji, dan memakai hak tinggi, sebagaimana yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pelajaran dari ayat • Kebenaran janji Allah ta’ala. • Penegasan kenabian Nabi shallallahu alaihi wa sallam, karena kabar seperti ini tidak akan bisa diceritakan kecuali oleh nabi yang mendapat wahyu. • Penegasan kaidah barang siapa yang beramal saleh, itu untuk dirinya, begitu pula dengan keburukan.📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, Al-Isra ayat 7 Karena manfaatnya kembali kepada kamu, bahkan ketika di dunia, saat kamu berbuat ihsan kamu dapat mengalahkan musuhmu. Sebagaimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memberikan kekuasaan kepada musuhmu terhadap kamu ketika kamu melakukan berbagai kemaksiatan. Yakni membuatmu sedih dengan kesedihan yang nampak di wajahmu karena adanya pembunuhan dan penawanan. Sebagaimana sebelumnya. Mereka membinasakan rumah-rumahmu, masjid-masjid, dan ladang tempat kamu bercocok dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Isra Ayat 7Jika kamu berbuat baik dengan menaati perintah Allah dan rasul-Nya serta melakukan kebijakan kepada sesamanya, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri, karena balasan yang kamu peroleh dari kebaikan itu. Dan jika kamu berbuat jahat, makakerugian kejahatanitujugauntuk dirimu sendiri, karena akibat dari kejahatan akan menimpamu. Selanjutnya dinyatakan kejahatan yang kedua yang diperbuat oleh kaum bani israil dan azab Allah yang ditimpakan atas mereka dinyatakan dalam firmannya, dan apabila datang saat hukuman kejahatan yang kedua, yang telah kami tetapkan di dalam kitab itu, kami datangkan orang-orang lain untuk menyiksamu sehingga menyuramkan wajah-wajahmu, akibat kesedihan dan penderitaan yang kamu alami, dan mereka, yakni musuhmusuhmu masuk ke dalam masjid, yakni masjidil aqsa, guna menyiksa dan membunuhmu sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama guna menyiksa dan membunuhmu akibat kejahatan kamu yang pertama, dan mereka memasukinya dengan tujuan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Allah yang maha pengasih tidak menutup rahmat-Nya kepada siapa yang mau bertobat dari kejahatan dan kembali kepada jalan yang benar. Allah menyatakan, mudah-Mudahan tuhanmu akan melimpahkan rahmat kepadamu, setelah kali yang kedua kejahatan yang kamu lakukan, dan kamu sungguh-sungguh bertobat kepada Allah, tetapi jika kamu kembali kepada kedurhakaan dengan melakukan kejahatan lagi, niscaya kami kembali mengazabmu di dunia dan kelak di akhirat kami jadikan neraka jahanam penjara atau hamparan tempat duduk bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang Demikian variasi penjelasan dari banyak ulama tafsir mengenai kandungan dan arti surat Al-Isra ayat 7 arab-latin dan artinya, semoga membawa manfaat bagi kita semua. Support perjuangan kami dengan memberi hyperlink ke halaman ini atau ke halaman depan Konten Terbanyak Dikaji Telaah ratusan topik yang terbanyak dikaji, seperti surat/ayat Do’a Setelah Adzan, Al-Kafirun, An-Naba, Adh-Dhuha, Al-Isra 32, Yusuf 28. Ada pula Al-Hujurat 13, Al-A’la, Al-Fatihah, Seribu Dinar, Al-Falaq, Al-Qadr. Do’a Setelah AdzanAl-KafirunAn-NabaAdh-DhuhaAl-Isra 32Yusuf 28Al-Hujurat 13Al-A’laAl-FatihahSeribu DinarAl-FalaqAl-Qadr Pencarian al imran 185, qs al maidah, yusuf 28, surat thaha ayat 14, al imran ayat 159 latin Dapatkan amal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat. Plus dapatkan bonus buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" secara 100% free, 100% gratis Caranya, salin text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga 3 group WhatsApp yang Anda ikuti Silahkan nikmati kemudahan dari Allah Ta’ala untuk membaca al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik surat yang mau dibaca, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar tafsir lengkap untuk ayat tersebut 🔗 *Mari beramal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat ini* Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol "Dapatkan Bonus" di bawah
عدوالإخلاص وهاذمه الرغبة في مدح الناس والطمع فيما عندهم. فمن نقى قلبه من هذين سهل عليه تحقيق باب الإخلاص "Musuh ikhlas dan penghancur nya adalah : (1) berharap memperoleh pujian orang-orang dan (2) berharap pemberian dari mereka. Barangsiapa yang membersihkan hatinya dari dua perkara ini maka mudah baginya untuk mewujudkan keikhlasan"
- Surat Al Ikhlas adalah salah satu surat pendek yang terdapat pada juz ke 30 di dalam kitab suci Al Quran. Surat Al Ikhlas berisi tentang tauhid kepada Allah SWT, di mana tauhid adalah konsep dalam Islam yang menyatakan tentang keesaan Allah SWT. Tidak sekadar belajar membacanya, tetapi kita juga perlu mengetahui arti dan keutamaan yang terkandung di dalam surat Al Ikhlas. Mari kita simak lebih lanjut mengenai bacaan, arti, dan keutamaan dari surat Al Ikhlas berikut ini. Bacaan dan Arti Surat Al Ikhlas Al Ikhlas merupakan surat ke-112 di dalam Al Quran, yang tergolong surah Makkiyah serta terdiri atas 4 ayat. Melansir laman dijelaskan mengenai sebab dari turunnya surat Al Ikhlas ini bermula dari pertanyaan orang-orang kafir mengenai Allah SWT, seperti disebutkan dalam sebuah hadis berikut ini Baca Juga Setara dengan Sepertiga Al Quran, Ini Arti Surat Al Ikhlas dan Keutamaannya "Dari Ubayy bin Ka’ab Radhiyallahu anhu bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , “Sebutkan nasab Rabbmu kepada kami!”, maka Allah menurunkan Katakanlah “Dia-lah Allah, yang Maha Esa", [HR Tirmidzi, no 3364; Ahmad, no 20714; Ibnu Abi Ashim di dalam as-Sunnah 1/297. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani]. Berikut ini adalah bacaan latin surat Al Ikhlas. Qul huwallahu ahadAllahus-samadLam yalid wa lam yuladWa lam yakul lahu kufuwan ahadIsi pokok surat Al Ikhlas adalah tentang penegasan terhadap keesaan Allah SWT. Surat Al Ikhlas juga mengajarkan kita semua untuk menolak segala bentuk penyekutuan terhadap Allah SWT. Berikut ini adalah arti dari surah Al Ikhlas secara rinci Katakanlah Muhammad, “Dialah Allah, Yang Maha Esa”.Allah tempat meminta segala sesuatu.Allah tidak beranak dan tidak pula tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. Keutamaan Surat Al Ikhlas Surah Al Ikhlas memiliki arti “Memurnikan Keesaan Allah SWT”. Terdapat banyak sekali keutamaan jika kita mengamalkan surat Al Ikhlas, salah satunya adalah membaca Al Ikhlas 1 kali setara dengan membaca sepertiga Al Quran. Hal ini juga dijelaskan dalam sebuah hadis yang berbunyi Baca Juga Urutan Bacaan Surat Pendek Witir 3 Rakaat Sesuai Sunnah, Perhatikan Rakaat Terakhir! Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu dia berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya surah Al Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al Quran".
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." [Al-Furqan (25): 23] , bahwa ketidak-ikhlasan menghancurkan amal, besar maupun kecil. Dan dengan demikian berarti kita telah membuat perjuangan kita bertahun-tahun sia-sia belaka. Allah swt. berfirman: [Thaha (20): 111]. JAKARTA - Sebelum meninggal dunia, cucu Rasulullah SAW, al-Hasan bermimpi melihat tulisan surat Al-Ikhlas. Dikutip dari buku Hasan dan Husain the Untold Story karya Sayyid Hasan al-Husaini, beberapa tahun setelah 'amul jama'ah, al-Hasan bermimpi melihat tulisan ayat pertama dari surah Al-Ikhlash, Qul huwallahu ahad Katakanlah "Dialah Allah, Yang Maha Esa" di antara kedua matanya. Al-Hasan sangat senang dengan mimpi itu. Mimpi ini pun kemudian terdengar oleh Sa'id bin al-Musayyib, lalu dia berkomentar "Jika mimpi itu benar, berarti ajalnya sudah dekat". Dan benar saja, beberapa hari setelah mimpi itu, al-Hasan meninggal dunia Al Bidayah wan Nihayah. Sebagaimana sang kakek, al-Hasan meninggal dunia karena efek racun yang masuk ke dalam tubuhnya melalui makanan. Ketika masih sehat walafiat, al-Hasan mewarisi banyak kemiripan dengan Rasulullah, bahkan menjelang ajalnya, kondisinya pun mirip dengan kondisi beliau dahulu. Menurut sejumlah riwayat, orang yang meracuni al-Hasan adalah istrinya sendiri, Ja'dah binti al-Asy’ats. Ada pula yang menyebutkan Mu'awiyah yang memerintahkan Ja'dah untuk melakukan makar ini. Akan tetapi, kebenaran riwayat tersebut tidak pernah terbukti. Lantas, siapakah yang menyebarkan riwayat-riwayat seperti itu? Yang pasti, perbuatan keji itu dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Perlu diketahui pada saat itu banyak sekali yang tidak suka melihat umat Islam bersatu. Apalagi setelah al-Hasan berhasil mewujudkan 'amul jama'ah hingga kaum muslimim bersatu di bawah seorang khalifah, maka kedengkian mereka mencapai titik didih. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini

Jawabannyaadalah tidak. Ada sebuah doa untuk menghancurkan orang zalim, sebuah doa untuk menghadapi musuh musuh kita. Dengan mengamalkan doa tersebut maka pertolongan Allah SWT akan datang, hukum karma Allah akan berlaku.

KEUTAMAAN SURAT AL-IKHLASOleh Ustadz Abu Abdillah Arief Budiman اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ {1} اللَّهُ الصَّمَدُ {2} لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ {3} وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ {4}‏Katakanlah Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan YANG MENERANGKAN KEUTAMAAN SURAT AL-IKHLAS 1. Hadits A’isyah Radhiyallahu anha, beliau berkataأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلاً عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِي صَلاَتِهِ، فَيَخْتِمُ بِـ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، فَلَمَّا رَجَعُوا، ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ سَلُوْهُ، لأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟، فَسَأَلُوْهُ، فَقَالَ لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرُوْهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ.Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada sekelompok pasukan, dan ketika orang itu mengimami yang lainnya di dalam shalatnya, ia membaca, dan mengakhiri bacaannya dengan [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ], maka tatkala mereka kembali pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , lalu beliau pun bersabda “Tanyalah ia, mengapa ia berbuat demikian?” Lalu mereka bertanya kepadanya. Ia pun menjawab “Karena surat ini mengandung sifat ar Rahman, dan aku mencintai untuk membaca surat ini,” lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Beritahu dia, sesungguhnya Allah pun mencintainya”.[1]2. Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata كَانَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ، وَكَانَ كُلَّمَا اِفْتَتَحَ سُوْرَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِي الصَّلاَةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ، اِفْتَتَحَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، حَتَّى يَفْرَغَ مِنْهَا. ثُمَّ يَقْرَأُ سُوْرَةً أُخْرَى مَعَهَا، وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ. فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ، فَقَالُوا إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ، ثُمَّ لاَ تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى، فَإِمَّا تَقْرَأُ بِهَا، وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى. فَقَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا، إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ، وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ. وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ، وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ. فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُوْهُ الخَبَرَ، فَقَالَ يَا فُلاَنُ، مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ؟ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُوْمِ هَذِهِ السُّوْرَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ؟ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّهَا، فَقَالَ حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَـنَّةَ.Seseorang sahabat dari al Anshar mengimami shalat mereka para shahabat lainnya di Masjid Quba. Setiap ia membuka bacaan di dalam shalatnya, ia membaca sebuah surat dari surat-surat lainnya yang ia selalu membacanya. Ia membuka bacaan surat di dalam shalatnya dengan [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ], sampai ia selesai membacanya, kemudian ia lanjutkan dengan membaca surat lainnya bersamanya. Ia pun melakukan hal demikan itu di setiap raka’at shalatnya. Akhirnya para sahabat lainnya berbicara kepadanya, mereka berkata “Sesungguhnya engkau membuka bacaanmu dengan surat ini, kemudian engkau tidak menganggap hal itu telah cukup bagimu sampai engkau pun membaca surat lainnya. Maka, jika engkau ingin membacanya bacalah surat itu saja, atau engkau tidak membacanya dan engkau hanya boleh membaca surat lainnya”. Ia berkata “Aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian suka untuk aku imami kalian dengannya, maka aku lakukan. Namun, jika kalian tidak suka, aku tinggalkan kalian,” dan mereka telah menganggapnya orang yang paling utama di antara mereka, sehingga mereka pun tidak suka jika yang mengimami shalat mereka adalah orang selainnya. Sehingga tatkala Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mendatangi mereka, maka mereka pun menceritakan kabar tentang itu, lalu ia Nabi bersabda “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan sesuatu yang telah diperintahkan para sahabatmu? Dan apa pula yang membuatmu selalu membaca surat ini di setiap raka’at shalat?” Dia menjawab,”Sesungguhnya aku mencintai surat ini,” lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Cintamu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga”.[2]HADITS YANG MENJELASKAN SURAT AL IKHLASH SEBANDING DENGAN SEPERTIGA AL QUR`AN 1. Hadits Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkataأَنَّ رَجُلاً سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ seseorang mendengar orang lain membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] dengan mengulang-ulangnya, maka tatkala pagi harinya, ia mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu kepadanya, dan seolah-olah orang itu menganggap remeh surat itu, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”.[3]2. Hadits Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu anhu pula, ia berkataقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَصْحَابِهِ أَيُـعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ القُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ، فَـشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ، وَقَالُوا أَيُّـنَا يُطِيْقُ ذَلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ اللهُ الوَاحِدُ الصَّمَدُ، ثُلُثُ القُرْآنِ.Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya “Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca sepertiga al Qur`an dalam satu malam saja?” Hal itu membuat mereka keberatan, sehingga mereka pun berkata “Siapa di antara kami yang mampu melalukan hal itu, wahai Rasulullah?” Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Allahul Wahidush Shamad surat al Ikhlash, Red, adalah sepertiga al Qur`an”.[4]3. Hadits Abu ad Darda` Radhiyallahu anhu, ia berkataعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيَـعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ القُرْآنِ؟، قَالُوْا وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ القُرْآنِ؟ قَالَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ.Dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , ia bersabda “Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca dalam satu malam saja sepertiga al Qur`an?” Mereka pun berkata “Dan siapa di antara kami yang mampu membaca sepertiga al Qur`an dalam satu malam, Red?” Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “[قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] sebanding dengan sepertiga al Qur`an”.[5]4. Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkataقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِحْشِدُوْا فَإِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ القُرْآنِ، فَحَشَدَ مَنْ حَشَدَ، ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، ثُمَّ دَخَلَ، فَقَالَ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِنِّي أَرَى هَذَا خَبَرٌ جَاءَهُ مِنَ السَّمَاءِ، فَذَاكَ الَّذِي أَدْخَلَهُ، ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ القُرْآنِ، أَلاَ إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ.Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Berkumpullah kalian, karena sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga al Qur`an,” maka berkumpullah orang yang berkumpul, kemudian Nabiyullah Shallallahu alaihi wa sallam keluar dan membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] surat al Ikhlash, red, kemudian beliau masuk kembali. Maka sebagian dari kami berkata kepada sebagian yang lain “Sesungguhnya aku menganggap hal ini kabar yang datang dari langit, maka itulah pula yang membuat beliau masuk kembali,” lalu Nabiyullah Shallallahu alaihi wa sallam keluar dan bersabda “Sesungguhnya aku telah berkata kepada kalian akan membacakan sepertiga al Qur`an. Ketahuilah, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”.[6]Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna dengan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas, seperti hadits Abu Ayyub al Anshari Radhiyallahu anhu[7], Abu Mas’ud al Anshari Radhiyallahu anhu [8], dan lain-lain.[9]MEMBACA SURAT AL IKHLASH DAPAT MENJADI PENYEBAB MASUK SURGA Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkataأَقْبَلْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَسَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ، قُلْتُ وَمَا وَجَبَتْ؟ قَالَ الجَـنَّةُ.Aku datang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , lalu beliau mendengar seseorang membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ] .Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Telah wajib,” aku bertanya “Apa yang wajib?” Beliau bersabda, “Telah wajib baginya surga.” [10]SURAT AL IKHLASH –DENGAN IZIN ALLAH- MELINDUNGI ORANG YANG MEMBACANYA, JIKA DIBACA BERSAMA SURAT AL FALAQ DAN AN NAAS Hadits Uqbah bin Amir al Juhani Radhiyallahu anhu, beliau berkataبَيْنَا أَنَا أَقُوْدُ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاحِلَتَهُ فِي غَزْوَةٍ، إِذْ قَالَ يَا عُقْبَةُ، قُلْ!، فَاسْتَمَعْتُ، ثُمَّ قَالَ يَا عُقْبَةُ، قُلْ!، فَاسْتَمَعْتُ، فَقَالَهَا الثَّالِثَةَ، فَقُلْتُ مَا أَقُوْلُ؟ فَقَالَ [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] فَقَرَأَ السُّوْرَةَ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَرَأَ [قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الفَلَقِ]، وَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَرَأَ [قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ]، فَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَالَ مَا تَعَوَّذَ بِمِثْلِهِنَّ أَحَدٌ.Tatkala aku menuntun kendaraan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah peperangan, tiba-tiba beliau berkata “Wahai Uqbah, katakana,” aku pun mendengarkan, kemudian beliau berkata lagi “Wahai Uqbah, katakana,“ aku pun mendengarkan. Dan beliau mengatakannya sampai tiga kali, lalu aku bertanya “Apa yang aku katakan?” Beliau pun bersabda “Katakan [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ]”, lalu beliau membacanya sampai selesai. Kemudian beliau membaca [قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الفَلَقِ], aku pun membacanya bersamanya hingga selesai. Kemudian beliau membaca [قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ], aku pun membacanya bersamanya hingga selesai. Kemudian beliau bersabda “Tidak ada seorang pun yang berlindung dari segala keburukan seperti orang orang yang berlindung dengannya tiga surat tersebut”. [11]KEUTAMAAN SURAT AL IKHLASH, JIKA DIBACA BERSAMA SURAT AL FALAQ DAN AN NAAS KETIKA SESEORANG HENDAK TIDUR Hadits A’isyah Radhiyallahu anha, beliau berkataأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا، فَقَرَأَ فِيْهِمَا [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ]، وَ [قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الفَلَقِ]، وَ[قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الـنَّاسِ]، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ apabila Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ingin merebahkan tubuhnya tidur di tempat tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan ke dua telapak tangannya, kemudian beliau sedikit meludah padanya sambil membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” dan “Qul A’udzu bi Rabbin Naas” dan “Qul A’udzu bi Rabbil Falaq,” kemudian setelah itu beliau mengusapkan ke dua telapak tangannya ke seluruh tubuhnya yang dapat beliau jangkau. Beliau memulainya dari kepalanya, wajahnya, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.[12]ORANG YANG BERDOA DENGAN MAKNA SURAT AL IKHLASH INI, IA AKAN DIAMPUNI DOSA-DOSANYA DENGAN IZIN ALLAH 1. Hadits Mihjan bin al Adru’ Radhiyallahu anha, beliau berkataأَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ المَسْجِدَ، إِذَا رَجُلٌ قَدْ قَضَى صَلاَتَهُ وَهُوَ يَتَشَهَّدُ، فَقَالَ اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ بِأَنَّكَ الوَاحِدُ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوْبِي، إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ، Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid, tiba-tiba ada seseorang yang telah selesai dari shalatnya, dan ia sedang bertasyahhud, lalu ia berkata “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu bahwa sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Esa, Yang bergantung kepadaMu segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya, ampunilah dosa-dosaku, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya,” beliau mengatakannya sebanyak tiga kali. [13]2. Hadits Buraidah bin al Hushaib al Aslami Radhiyallahu anha, beliau berkataأَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلاً يَقُوْلُ اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ، فَقَالَ لَقَدْ سَأَلْتَ اللهَ بِالاِسْمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ.Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendengar seseorang berkata “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu, bahwa diriku bersaksi sesungguhnya Engkau adalah Allah yang tidak ada ilah yang haq disembah kecuali Engkau Yang Maha Esa, Yang bergantung kepadaMu segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya,” kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Sungguh dirimu telah meminta kepada Allah dengan namaNya, yang jika Ia dimintai dengannya pasti akan memberi, dan jika Ia diseru dengannya, pasti akan mengabulkannya”.[14]Demikian sebagian hadits-hadits shahih yang menerangkan keutamaan-keutamaan surat al Ikhlash yang mulia ini. Dan masih banyak hadits-hadits lainnya yang menerangkan keutamaan-keutamaan surat ini, namun kebanyakan dha’if lemah, atau bahkan maudhu’ palsu.[15] Sehingga, cukuplah bagi kita hadits-hadits yang shahih saja tanpa hadits-hadits yang dha’if, terlebih lagi yang maudhu’.Billahit taufiq.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] HR al Bukhari, 6/2686 no. 6940; Muslim, 1/557 no. 813; dan lain-lain. [2] HR al Bukhari, 1/268 no. 741; at Tirmidzi, 5/169 no. 2901; Ahmad, 3/141 no. 12455; dan lain-lain. [3] HR al Bukhari, 4/1915 no. 4726, 6/2449 no. 6267, 6/2685 no. 6939; Abu Dawud, 2/72 no. 1461; an Nasaa-i, 2/171 no. 995; dan lain-lain. [4] HR al Bukhari, 4/1916 no. 4727. [5] HR Muslim, 1/556, no. 811; Ahmad, 6/442, no. 27535; dan lain-lain. [6] HR Muslim, 1/557, no. 812; at Tirmidzi, 5/168 no. 2900; dan lain-lain. [7] HR at Tirmidzi, 5/167 no. 2896; an Nasaa-i, 2/171 no. 996; Ahmad, 5/418 no. 23593; dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’, 2663 dan Shahih at Targhib wa at Tarhib, 2/197 no. 1481. [8] HR Ahmad, 4/122 no. 17147; dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’, 4404. [9] Lihat Tafsir al Qur`an al Azhim, 8/520-523. [10] HR at Tirmidzi, 5/167 no. 2897; an Nasaa-i, 2/171 no. 994; dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih at Tirmidzi, Shahih an Nasaa-i, Shahih at Targhib wa at Tarhib 2/196 no. 1478, dan kitab-kitab beliau lainnya. Lihat pula hadits Anas bin Malik z pada sub judul Keutamaan Surat al Ikhlash Secara Umum. [11] HR an Nasaa-i, 8/251 no. 5430-5431; dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih an Nasaa-i. [12] HR al Bukhari, 4/1916 no. 4729; Abu Dawud, 4/313 no. 5056; dan lain-lain. [13] HR Abu Dawud, 1/259 no. 985; an Nasaa-i, 3/52 no. 1301; Ahmad, 4/338 no. 18995; dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih an Nasaa-i. Lihat pula Shifat Shalat Nabi, hlm. 186. [14] HR Abu Dawud, 2/79 no. 1493; at Tirmidzi, 5/515 no. 3475; Ibnu Majah, 2/1267 no. 3857; Ahmad, 5/349 no. 23002, 5/350 no. 23015, 5/360 no. 23091; dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih Abi Dawud, Shahih at Tirmidzi, Shahih Ibnu Majah, Shahih at Targhib wa at Tarhib 2/280 no. 1640. [15] Lihat Tafsir al Qur`an al Azhim, 8/518-527; al Jami’ li Ahkam al Qur`an 20/227-232 dan ad Durr al Mantsur, 8/669-682.
.
  • su7q3edxja.pages.dev/312
  • su7q3edxja.pages.dev/294
  • su7q3edxja.pages.dev/297
  • su7q3edxja.pages.dev/16
  • su7q3edxja.pages.dev/164
  • su7q3edxja.pages.dev/110
  • su7q3edxja.pages.dev/256
  • su7q3edxja.pages.dev/96
  • su7q3edxja.pages.dev/262
  • menghancurkan musuh dengan surat al ikhlas